Senin, 02 November 2009

Go Organic atau Living Regular? Impor atau Lokal?

Go Organic or Living Regular?
Sebetulnya, mau pake sayuran dan makanan yang biasa pun tetap saja yang dimakan adalah 'benda' organik. Organik kan artinya hidup.. Tapi, untuk bahasan yang sekarang, makanan organik adalah makanan yang diperoleh/dibudidayakan di tanah yang bebas pencemaran, melalui cara yang alami, natural, tanpa melibatkan bahan-bahan kimia untuk mem-boost hasil akhirnya. Misal, kalau sayuran ya di tanam begitu saja secara alami. Pupuknya pakai pupuk kompos yang bersumber dari hewan atau sampah tumbuhan lain, dan untuk menghalau hama mengandalkan tanaman yang bisa menghalau hama atau membiarkan predator serangga pengganggu memakannya.
Kalau berupa hasil ternak, si hewan diberi makanan naturalnya. Kalo unggas ya hanya dibiarkan mencari makan seadanya dan ditambah biji-bijian alami, kalau sapi ya diberi rumput saja. Nggak ada cerita tuh dikasih pellet yang isinya protein hewani juga apalagi disuntik antibiotik.

Kalo gitu kenapa harga bahan makanan organik mahal? Wong diproduksinya juga 'seadanya' gitu.
Yaa.... Ada sisi kecerdikan marketing juga sih. Ada anggapan bahwa mengkonsumsi makanan organik dapat mengangkat derajat kesehatan (dan status sosial :D) dan sudah jadi semboyan bahwa kesehatan itu mahal harganya.
Tetapi, dalam produksi sayur dan buah organik tentunya hanya yang terbaik yang bisa dilempar ke pasar. Karena tidak menggunakan pestisida kimiawi, maka hasil panen pun tidak akan semua mulus. Padahal konsumen selalu mengharapkan mendapat sayuran yang mulus dan hewan yang gemuk.

Katakanlah punya 5M2 lahan stroberi, pada saat panen mungkin hanya setengah aja yang mulus. Lainnya mungkin ada yang digigit ulat,busuk dan gangguan lain tentu nggak dijual. Jadilah sisanya tetap dijual dengan harga produksi lahan utuh. Mahal? Jelas...
Jadi, ada baiknya kita mengetahui benar-benar status "organik"nya. Kalau memang betul tersertifikasi sebagai bahan pangan organik, tentu nggak masalah dan tentunya lebih bermanfaat. Tapi kalau yang pura-pura "organik" itu yang menyebalkan... Akan lebih baik lagi, kalau suatu hari nanti di Indonesia sudah ada satu lembaga resmi yang bisa mengesahkan ke-organik-an suatu bahan pangan. Sehingga kita mendapat sesuai apa yang kita bayarkan dan nggak perlu bergantung pada produk organik impor. Sudahlah organik, impor pula. Kebayang mahalnya kan?

Nah, bagaimana dengan pilihan bahan makanan untuk MPASI anak kita tercinta?
Sebetulnya kalo bisa pakai bahan organik tentu sangat OK, namun bukan berarti pakai bahan makanan biasa jadi nggak sehat.
Bahan makanan yang tidak diperoleh secara 'organik', artinya diproduksi dengan cara bertanam / beternak 'biasa' bukan berarti tidak sehat dan tidak aman. Yang penting cara mempersiapkannya yang harus diperhatikan. Misalnya, untuk sayuran berkulit silakan dicuci-kupas-cuci lagi dan keringkan sebelum diolah. Sayuran berdaun dipetik,dan dicuci dengan air mengalir satu persatu hingga bersih. untuk makanan hewani, pilih ayam kampung, daging segar, dan ikan segar di pasar.
Nggak susah kok...
Kalaupun memang ada dana untuk menyediakan segala bahan MPASI dari bahan organik, boleh banget menggunakan full organik untuk makanan bayi Anda dan pastikan sampai besar nanti dia tetap menggunakan bahan makanan organik, ayah ibunya juga sekalian ikutan lebih sehat mengkonsumsi pangan organik. Jangan hanya waktu bayi mulai makan sampai 1 tahun diberi makanan organik, lalu setelahnya mulai dilepas pakai makanan biasa karena alasan "Makannya makin banyak, kalau organik semua kan mahal" hihihi.. Nanggung dong mau sehatnya :)

Kalau menurut pendapat saya, ada baiknya juga tetap mengenalkan makanan yang 'biasa'. Kenapa? Anda harus berpikir jangka panjang, apabila bayi selalu terkena barang 'baik' maka dia tidak pernah membuat imunitas untuk sesuatu yang 'jahat'. Dan seperti yang Anda lihat, Indonesia kan bukan negara yang bersih dan steril dibandingkan negara lainnya. Bakteri mudah berkembang biak karena disini lebih lembab dan hangat.

Istilahnya, kalo suatu hari nanti anak kita keluar main ke dunia yang nggak sepenuhnya berisi bahan-bahan 'organik' yang bersih dan sehat, maka dia sudah memiliki proteksi pada dunia yang liar ini.  Untuk bahan-bahan tertentu yang harga "versi" organiknya masih reasonable tetap kami beli. Kenapa enggak?
Tapi bukan berarti kami lalu tidak membeli yang non organik, tetep lah... Ya, anggap saja itu variasi, tidak perlu terlalu saklek untuk soal seperti ini.

Impor atau Lokal Ya?
Nah ini juga lumayan membingungkan, atau sebenarnya terlalu dibikin bingung?

Tertera dengan jelas di poin pemberian MPASI pernyataan lugas bahwa sebaiknya MPASI dibuat dari BAHAN-BAHAN  LOKAL
Masalahnya, kita -para ibu-ibu- lebih sering browsing resep MPASI dari website luar negeri, dimana terdapat bermacam bahan makanan ajaib. (dan memang beberapa waktu lalu belom ada milis mpasirumahan , weblog ini, dan weblog mamaku kokihandal yang keren ituh... Hahhaha)
Jadi, secara nggak disengaja juga kita jadi terbawa untuk mencicip-kan yang namanya butternut squash lah, zukini lah, atau alpukat selandia baru, kiwi, blueberry.... You name it. Padahal, makanan pertama untuk bayi sebetulnya nggak usah dibawa pusing dengan memberikan makanan impor itu. Nggak semua yang impor bagus lhoo. Bahan makanan lokal memiliki rantai distribusi yang lebih pendek, jadi tidak perlu disemprot-semprot pengawet-segar sayur-buah seperti buah sayur impor.

Mari kita manfaatkan dulu bahan-bahan lokal yang biasa kita temukan di pasaran. Misal:
Kacang hijau = menggantikan lentils/dals
Ubi kuning = sweet potato
Terong ungu = pengganti untuk zukini
Labu parang = rasanya mirip sekali dengan kabocha
Lobak putih = teksturnya mirip dengan radish
Jeruk Pacitan = jeruk sunkist
Jeruk Bali = grapefruit
Salmon = ganti dengan ikan laut lokal seperti tengiri, salem, baronang, kerapu, kakap, dll

Selain itu banyak juga sayuran dan buah lokal yang juga nikmat untuk makanan bayi dan balita Anda, seperti kangkung, bayam, wortel, buncis, labu air, labu siam, pisang raja, pisang ambon, mangga, belimbing, tomat buah (tomat gendut), kacang panjang, jagung, bunga kol putih, dll Gunakan apa yang kita konsumsi untuk makanan sehari-hari, tidak perlu terlalu dibuat spesial. Malah bikin susah saat dia mulai besar nanti, sebab tidak kenal dengan bahan makanan yang biasa dimakan orang tuanya.

Jadi, jangan merasa bersalah atau merasa anaknya kurang beruntung kalau tidak menggunakan produk organik atau produk impor. Semuanya bisa diatur dan diseimbangkan sesuai kebutuhan, dan yang penting Angka Kecukupan Gizi anak terpenuhi.

Salam,
DepeZahrial

6 komentar:

Sitha mengatakan...

Mbak Depe, saya mah prefer produk lokal dan yang lagi musim. Biasanya lebih murah dan enak (krn mateng pohon). Kebetulan buat si kecil (7m20d), kami berusaha kasih bahan pangan organik. Tp yg biasa juga pernah. Btw, saya link ya site-nya. Thx!

d e p e z a h r i a l mengatakan...

Hai Mbak Sitha, nun-jauh sekali sampai Perancis... Iya mbak, memang lebih baik memilih buah lokal yang ada di negara kita. Kalo di perancis mungkin buah2an tropis emang sulit ya... kalopun ada pasti mahal, tapi kan ada peach plum dkk. Nah kalo di sini, ibuk2 nya pada bingung nyari peach nectarine plum dkk itu.. padahal ada pepaya, pisang ambon, blewah, dll yang inuk-inuk (enak banget, jadi inuk LOL)

Kalopun bisa memberikan organik, saya prefer sayur dan buah organik milik petani lokal. Soalnya di premium market di Indonesia banyak juga sayur&buah organik yang impor. Serem aja mbak... Udah berhari-hari dipejang kok masih seger aja :-D

Terimaksih sudah link site saya, semoga berguna.

Merci Beaucoup! *bener ga nulisnya?*

Sitha mengatakan...

Bener, bener, mending yg lokal. Di sini susah cari pepaya yang enak, sampai jontor juga ngga dapet deh... *hihi, kesian jontor...*
Bener juga buat penulisan "Merci Beaucoup"-nya. Jawabnya, "De rien". Met wiken yaa...

noviamiaw mengatakan...

halo salam kenal mbak depe zahrial
saya novia..
kebetulan saya sedang mencari2 informasi tentang penelitian saya, setelah membaca postingan mbak yang ternyata udah lumayan lama juga yah, nah ini berkaitan mbak..
sebenarnya penelitian saya terkait pengembangan produk MP-ASI Gasol, yang memang alami serta sehat.
nah yang ingin saya tanyakan, sebenarnya sampai sejauh manakah kecenderungan preferensi ibu rumah tangga terhadap pilihan makanan untuk bayinya?
sepengetahuan mbak sendiri misalnya, bagaimana mbak memandang kecenderungan yang ada di ibu rumah tangga indonesia (maaf kalau agak terlalu luas lingkupnya)...
dan sejauh mana ibu rumah tangga indonesia memiliki kesadaran untuk memberikan MP-ASI yang baik bagi buah hatinya mbak?

apakah ibu rumah tangga sekarang memang sudah sebagian besar sadar dan paham akan keunggulan dari MP-ASI yang dibuat sendiri di rumah, atau tetap cenderung memberikan MP-ASI instan bagi anaknya?

atau mungkin apakah sebelumnya ada survei terkait itu mbak??
mohon maaf ya mbak sebelumnya,

d e p e z a h r i a l mengatakan...

hai mbak Novi, kami belum pernah mengadakan survey sejauh itu. Kalau mbak ingin melakukan survey, kami akan bantu untuk menyebarkan kuesioner. silakan kirim via email proposal penelitiannya ke mamaku-kokihandal @ live . com

terimakasih

Intan Rastini mengatakan...

saya nanem bayam di halaman rumah, itu termasuk organik ya? hehehe soalnya pake pupuk kandang dan ga dikasi pestisida. rencananya bayam itu buat mpasi Kalki seminggu lagi :)